Setengah hatiku, kurelakan untuk kau tawan. Di balik jeruji nafasmu, ku temukan bingkai-bingkai hati yang retak, tlah tersiakan. Ku bertanya, "bolehkah ini ku pungut?". Lalu kau mengangguk semangat, ku lihat senyum itu terpancar dari wajahmu. Dan bingkai-bingkai itu ku rangkai, ku gunakan untuk membingkai wajah hatiku yang kusut tak bersemangat lagi, tlah patah dan tak bersinar. Namun dengan sekejap, bingkai itu tlah melengkapi jiwanya, yang tlah lama lusuh tak berperisai. Ku terperangah sejenak, bingkai itu tak hanya indah, tapi dia juga bersina terang. Menghangatan, namun sejuk. Memberi panas, namun damai. Tak pernah ku rasai lagi yang seperti ini dari 4 tahun lampau.
Indahnya ku rasakan hingga lubuk tubuhku, merasuk tulang belulangku, menjelma menjadi hasrat yang dalam, panas, bergelora. Jiwanya kurasai memelukku, membelaiku indah, dengan tanga kokohnya, tlah berhasil mengangkatku tinggi-tinggi. Ku rasai puncak kejayaanku, saat ia berkata, akulah ratunya, penguasa tubuhnya, pemilik nafsunya dan pengendali geraknya. Dan saat itu pula, dia tlah menipuku, dia tlah membuatku yang terkulai lemas karenanya. Karena indahnya. Dan kini ku berbalik berkata, "wahai kau angin, kaulah rajaku, penguasa tubuhku, pemilik nafsuku, pengendali gerakku dan bahkan yang berhak atas keturunan-keturunanku". Dan ku lanjutkan memujanya, "wahai angin, kau lah yang membuatku tersentak, matamu tlah mengubah semuanya, seluruh sendiku luruh untuk bertekuk lutut pada Tuhanku. dan yang lebih penting, Tuhanku lah yang tlah memberiku kuasa untuk mengatakan ini, merasakan ini, dan menjalankan ini, Lillahi Ta'ala. Insya Allah. sayangku karena Allah SWT.."

0 comment:
Post a Comment